Thursday, October 1, 2015

Sokushinbutsu, Tradisi Mumifikasi Biksu Jepang


Tersebar di Jepang bagian utara, Sokushinbutsu. Mumifikasi diri sendiri oleh para biksu Jepang.




Sokushinbutsu
Sokushinbutsu merupakan proses mumifikasi diri sendiri oleh para biksu Jepang aliran shugendo yang berupa ajaran buddha kuno. Tradisi ini dilakukan oleh para biksu untuk mendapatkan pencerahan demi kesempurnaan melalui hukuman fisik/menyiksa diri sendiri. Para biksu menyiksa dirinya sendiri, mati dan mengawetkan dirinya sendiri dalam usaha penyangkalan diri. Dengan jalan tersebut, para penganut percaya mereka akan memperoleh kedudukan mulia di surga.


Gerbang Masuk Sokushinbutsu
Selama tiga tahun pertama proses Sokushinbutsu, para biksu akan memakan makan diet yang terdiri dari biji-bijian dan kacang-kacangan sambil tetap melakukan aktivitas sehari-hari yang berlebihan hingga membuat mereka semakin kurus. Untuk tiga tahun selanjutnya, mereka hanya memakan sejumlah kecil kulit dan akar pohon pinus yang telah dikeraskan. Setelah itu mereka diharuskan untuk meminum teh beracun yang terbuat dari getah pohon teh urushi. Minuman ini membuat mereka muntah-muntah dan buang-buang air kecil sehingga cairan tubuh berkurang juga mematikan segala bakteri dan belatung yang akan menggerogoti tubuh mereka setelah mati. Langkah akhir adalah dengan menempatkan para biksu tersebut di ruang batu yang hanya cukup untuk diri mereka sendiri dan menutup ruang tersebut selama tiga tahun. Selama tahap ini para biksu hanya disediakan satu tabung saluran udara serta sebuah lonceng yang tiap harinya dibunyikan dan menandakan bahwa mereka masih hidup.


Tradisi Sokushinbutsu
Tidak semua biksu yang menjalani Sokashinbutsu berakhir sukses, banyak dari para biksu tersebut yang berakhir membusuk. Mumi biksu tersebut tetap berada di dalam ruang batu tersebut dan dihormati atas hal yang mereka jalani. Namun, biksu tersebut tidak dianggap sederajat dengan Buddha, para biksu yang berhasil dianggap sederajat dengan Buddha dan muminya dipajang didalam kuil. Pemerintah Jepang telah melarang kegiatan ini pada abad 19, walaupun masih didapati beberapa biksu yang mencoba melakukannya.



Happy Traveling!

No comments:

Post a Comment